Mantan TKI Sukses Memiliki Tujuh Minimarket


Dari Gaji Penjaga Toko yang Berbuah Omzet Rp35 M per Tahun
Bagi Trisno Yuwono, menjadi TKI ke luar negeri cukup sembilan tahun. Selama itu, dia rajin menabung dan hasilnya dipakai untuk membuka usaha di tanah air. Trisno yang dulu berstatus TKI, kini menjadi bos yang punya tujuh toko swalayan.

Laporan M. Hilmi Setiawan, DEPOK

SEKILAS wajah Trisno Yuwono mirip dengan Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Abraham Samad. Wajah bundar, dagu dipenuhi jenggot tipis, berbadan tegap, dan raut wajah sedikit khas Timur Tengah. Gaya bicaranya pun terdengar mantap.

Didampingi sang istri, Eva Karisma Dewi, pria kelahiran Blitar, 12 Agustus 1970, itu kemarin (27/12) menerima penghargaan International Migrant Worker’s Award (IMWA) 2011 dan uang tunai Rp5 juta. Penghargaan yang dipelopori UKM Center Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) itu diberikan langsung oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar.

    Penghargaan yang diterima bapak tiga anak itu berawal dari kerja kerasnya menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi dalam rentang waktu 1991 hingga 2000. Dalam kurun waktu itu, Trisno tidak terhitung bolak-balik Indonesia-Arab Saudi.

    Yang membuat para dewan juri kepincut terhadap sosok Trisno adalah keuletannya merintis bisnis dari hasil bekerja menjadi TKI di Arab Saudi. Kini dia memiliki tujuh unit swalayan atau minimarket. Tujuh toko swalayan itu tersebar di Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur.

Toko swalayan milik Trisno yang diberi nama Sari-Sari itu menjadi saingan minimarket-minimarket populer lainnya. ’’Tantangannya lebih besar membuat swalayan sendiri daripada ikut jaringan minimarket waralaba,’’ tandasnya. Alasan lain, Trisno bukan tipe orang yang mudah diatur. Saat ini omzet dari tujuh unit swalayan tersebut mencapai Rp35 miliar per tahun.

Jalan hidup Trisno hingga sukses menjadi bos toko swalayan itu dimulai ketika dia menyatakan keluar dari bangku kuliah. Saat itu, dia belum genap satu semester menuntut ilmu di STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Blitar, Jawa Timur. Alasan dia putus kuliah ada dua. Pertama, kondisi keuangan keluarga sangat pas-pasan. ’’Daripada nanti putus di tengah jalan, lebih baik putus di awal,’’ ceritanya.

    Alasan kedua lebih mengejutkan. Dia memutuskan keluar dari STKIP Blitar karena jika lulus nanti paling hanya bisa menjadi guru. Saat itu alumnus SMKN (dulu STMN) Blitar ini mengatakan, rata-rata guru di kampungnya hidup sederhana. Sebab, gaji menjadi guru waktu itu jauh dari layak.

    Setelah keluar dari kampus, Trisno sempat bingung mau berbuat apa. Dia akhirnya bertekad menjadi TKI ke luar negeri. Namun, ada sedikit kendala. Dia tidak memiliki modal untuk berangkat. Akhirnya, Trisno menjual sepeda motornya seharga Rp1,5 juta. Dengan uang itu, dia mendaftar menjadi TKI melalui biro jasa penyalur tenaga kerja ke luar negeri.

    Tahun 1991 merupakan awal kiprah Trisno menjadi TKI. Dengan berbekal ijazah STM, di Arab Saudi Trisno bekerja sebagai sopir di rumah seorang wakil amir atau di Indonesia seperti wakil gubernur. Awal-awal bekerja sebagai sopir, Trisno mendapatkan gaji 800 riyal atau sekitar Rp1,9 juta (1 riyal = Rp2.421).

    ’’Saya merasakan saat itu gaji yang saya terima sudah cukup besar,’’ tutur Trisno. Dia mengaku semakin berbangga hati dan berjanji lebih giat bekerja. Bukan bermaksud pamer, seluruh gaji pertamanya dia kirim ke orang tuanya di kampung.

    Meski bergaji cukup tinggi, belum satu tahun Trisno sudah tidak betah bekerja di rumah majikannya. ’’Saya merasa tidak ada kecocokan saja,’’ ucapnya tanpa merinci bentuk ketidakcocokan itu. Setelah mengumpulkan keberanian, Trisno meminta majikannya berkenan memulangkannya ke tanah air.

Namun, permintaan Trisno ditolak. Sang majikan memberikan kebebasan jika Trisno ingin keluar. Tetapi, dia harus membeli tiket pesawat sendiri. Dengan sikap majikan seperti itu, akhirnya Trisno keluar. Tetapi karena uang tabungan belum banyak, dan sayang jika digunakan untuk membeli tiket pesawat Saudi-Indonesia, dia tidak jadi pulang. Trisno lebih memilih pindah pekerjaan dari sopir menjadi penjaga toko keramik impor.

Keputusan Trisno pindah kerja menjadi penjaga toko itu berbuah manis. Trisno menerima gaji 1.350 riyal per bulan. Dengan peningkatan gaji ini, Trisno semakin rajin menabung. Memasuki 1993, Trisno pulang, kemudian mempersunting Eva, yang tidak lain pujaan hatinya ketika duduk di bangku SMKN Blitar.

Sejak 1993 hingga 2000, Trisno mengaku sering bolak-balik Indonesia-Saudi. Dia juga mengaku sempat memboyong keluarganya tinggal di Saudi. Pada suatu malam, ketika tertidur di ruko keramik milik majikannya, Trisno bermimpi. ’’Saya mimpi menjadi pemilik toko seperti majikan saya,’’ kenang Trisno.

    Ketika terjaga, dia langsung yakin bahwa mimpi tadi adalah ilham yang diberikan Allah. Dia juga yakin bahwa mimpi tadi adalah jalan Allah untuk mengubah nasibnya dari TKI menjadi pemilik toko. Akhirnya, berbekal tabungannya, pada 1998 Trisno membeli sebidang tanah di Kademangan, Blitar, Jawa Timur. Setahun kemudian, di atas sebidang tanah itu Trisno membangun fondasi toko berukuran 8 x 14 meter.

    Pada 2000 Trisno pulang dan bertekad mengakhiri pekerjaannya sebagai TKI. Bermodal uang sisa tabungan sekitar Rp50 juta, Trisno mendirikan sebuah toko swalayan. Toko pertamanya diresmikan pada Juni 2000.

    Awal-awal membuka toko swalayan, Trisno dan Eva bekerja bahu-membahu. Trisno menugasi istrinya menjadi semacam ’’agen intelijen’’. Tugasnya menggali informasi tentang harga-harga barang kebutuhan pokok serta barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun mandi, sikat gigi, dan sampo di beberapa pasar tradisional. Data yang dikumpulkan Eva dijadikan acuan bagi Trisno untuk menentukan harga jual barang di tokonya.

    Tugas lain yang diemban Eva adalah mencari dan merangkul sales atau pemasok barang kebutuhan sehari-hari. Trisno mengatakan, pada awal membuka toko swalayan tanpa menggandeng jaringan waralaba dirinya cukup sulit mendapatkan kepercayaan dari pemasok. Namun, berbekal keuletan dan trik meyakinkan orang, beberapa pemasok bersedia menaruh barangnya di swalayan Sari-Sari milik Trisno.

    Pada hari perdana, Trisno mengatakan omzet tokonya mencapai Rp 2 juta. Apakah itu sudah cukup besar? ’’Saya saat itu menargetkan omzet Rp1 juta pada hari pertama,’’ jawabnya agak diplomatis.

    Tantangan berikutnya, muncul persaingan dengan merek waralaba minimarket atau toko swalayan lain. Namun, menurut Trisno, yang terjadi saat itu bukan persaingan. Sebaliknya, berkembangnya minimarket waralaba malah membuat omzet penjualan Trisno terkatrol naik.

    Setelah satu unit toko swalayannya bisa berdiri kuat, Trisno mulai berekspansi dengan membuka toko swalayan baru. Unit swalayan kedua itu diresmikan sekitar satu setengah sampai dua tahun setelah peresmian toko swalayan pertama. Begitu seterusnya hingga kini dia memiliki tujuh toko swalayan. ’’Toko swalayan ketujuh saya resmikan Juli 2010 lalu,’’ jelasnya.

    Dengan semakin berkembangnya usaha toko swalayan tersebut, Trisno sudah tidak lagi merengek-rengek kepada pemasok untuk bersedia menitipkan barangnya. Sebaliknya, sekarang sejumlah pemasok malah merengek-rengek ke Trisno supaya mau menerima barang mereka.

    ’’Saya sekarang benar-benar menyeleksi pemasok yang menawarkan barang,’’ ucap Trisno. Dia mengatakan, seleksi ketat itu untuk menjaga kualitas barang yang akan dijual. Dia juga menyimpan rahasia lain yang tidak boleh dikorankan, sehingga tetap hidup di tengah gempuran minimarket lain.

    Selain itu, dengan tujuh unit swalayan, Trisno saat ini mempekerjakan 50 orang. Trisno cukup sportif dengan memberikan gaji kepada karyawan sesuai UMR (upah minimum regional) di setiap daerah. Beberapa orang yang sudah lama bekerja dan menjadi pegawai kepercayaan digaji Rp2 juta sampai Rp5 juta per bulan.

    Dengan capaian tersebut, Trisno sangat senang jika akhirnya bisa menulari kawan-kawan yang kini masih menjadi TKI atau sudah berstatus purna TKI. Dia berpesan, alangkah bijaksana jika uang hasil bekerja sebagai TKI dijadikan modal usaha sehingga bisa mandiri. Selama ini dia masih sering mendengar gaji para TKI habis untuk membayar utang.


Ikuti "Workshop The Tour Series 1" dengan tema HOW TO BE THE GREAT ENTREPRENEUR

Klik gambar dibawah ini untuk info selengkapnya 




TKI Kalsel Sukses Jadi Pengusaha Sawit


(Berita Daerah-Kalimantan), Sore itu udara di areal persawahan di Pantai Hambawang, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel cukup panas. Langit cerah tanpa awan, baju kaos lengan panjang yang membungkus tubuh lelaki berkulit sawo matang basah oleh keringat. Sambil duduk di pematang sawah, wajah Sunarto, terlihat serius memegang joran yang dibuat dari bambu.

Mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tahun 90-an itu mulai tersenyum ketika merasakan tali senarnya kencang karena umpannya disambar ikan.

Uh...Uh... kena..! kata Narto seraya mengangkat joran.

Seekor ikan gabus sebesar lengan tangan menggelepar terkena pancing setelah mematuk umpan dari ulat bumbung.

"Alhamdulillah, lumayan sudah dapat dua ekor ikan gabus," kata lelaki asal Lamongan Jawa Timur itu.

Sunarto mengaku Memancing, adalah kegiatan untuk mengisi waktu selepas menanam padi.

Bagi bapak dua anak itu, memancing juga bisa menjadi sarana untuk mencari inspirasi dan menambah ilmu pengetahuan melalui membaca buku-buku tentang berkebun kelapa sawit.

Memancing merupakan kebiasaan yang dilakukan Sunarto setelah pulang dari "Negeri Jiran" Malaysia menjadi TKI yang diperkerjakan di bangunan gedung dan apartemen.

Tiga setengah tahun Sunarto berjibaku dengan alat berat di Malaysia membangun beberapa apartemen dan gedung bertingkat.

Selama merantau, gaji yang diterima dikirimkan kepada keluarganya, terutama kedua orangtuanya di Lamongan untuk keperluan hidup sehari-hari dan sebagian dibelikan sapi.

Sedikitnya enam ekor sapi yang berhasil dibeli selama Sunarto menjadi TKI di negeri Jiran Malaysia.

Diujung masa kontraknya berakhir, Sunarto pulang ke kampung halamannya di Lamongan.

Selain rindu kepada kedua orangtua, keluarga dan teman-temannya, kepulangannya ke Indonesia juga karena surat dari teman dekat yang masih setia menunggu di Pantai Hambawang, Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel.

Setelah melepas kerinduan dengan orangtua, dan keluarganya di Lamongan, Sunarto mendatangi Norafiah, teman dekatnya semasa bersama-sama menjadi karyawan pabrik plywood PT Basirih di Banjarmasin 1993.

Tujuanya tidak lain dan tidak bukan, hanyalah ingin meminang Norafiah kepada orangtuanya di Barabai.

Tidak membuang-buang waktu, lulusan SMA Sambeng, Lamongan itu melangsungkan pernikahannya dengan perempuan berambut ikal dan berkulit sawo matang.

Tahun pertama menjadi warga Barabai, Sunarto mengaku, canggung dan merasa serba salah apa yang akan dikerjakan, bertani atau berdagang.

Meski dilahirkan dari keluarga petani, Sunarto masih belum siap untuk menjadi petani seperti nenek moyangnya.

Saat berkunjung ke tempat keluarganya di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, Sunarto sempat ditawari kerabatnya untuk membeli sebidang lahan kosong seharga kurang dari Rp5 juta.

Meski dalam hatinya masih ragu, Sunarto tetap menyetujui tawaran tersebut.

"Itung-itung membantu keluarga," kata Sunarto mengenang.

Dalam perjalannya, Sunarto memutuskan hidup di Kota Kotabaru.

Ia bersama istrinya boyongan dari Barabai, ke Kotabaru untuk mengadu nasib bersama keluarga yang lainnya.

Untuk menghidupi keluarganya, Sunarto mengisi hari-harinya dengan mengayuh becak di Kota Kotabaru.

Sunarto berkeyakinan, hanya dengan ijazah SMA, tidak banyak yang bisa dilakukan, terlebih untuk menjadi pegawai negeri.

"Makanya saat itu saya langsung membeli becak agar tidak menyewa," kata Sunarto yang kini telah dikarunia dua orang putri.

Di sebuah petakan rumah berukuran 10 meter X 4 meter di sebuah gang buntu, Sunarto mengawali perjuangannya di Kota Kotabaru.

Dari sebagian uang hasil menarik becak suaminya, Norafiah kumpulkan untuk ditabung.

"Selama saya di Kotabaru sering didatangi warga yang akan menjual lahan, dan saat itu pula saya tidak bisa menolak dan langsung saya beli," ujarnya.

Ia selanjutnya memutuskan untuk menjual sapi yang sudah menjadi delapan ekor itu untuk membeli kebun kelapa sawit di Kelumpang Selatan Kotabaru.

Sedikitnya lima paket, atau sekitar 10 hektare kebun kelapa sawit yang sudah dibeli Sunarto dari hasil menjadi TKI di Malaysia.

"Kebun-kebun sawit itu kini telah menghasilkan," ujar Sunarto.

Dari hasil kebun kelapa sawit itu pula, Sunarto kini telah memiliki beberapa hektare sawah di Barabai, untuk ditanami padi dan palawija.

Jadi Miliaran Rupiah.

Selain ditabung, hasil kebun sawit juga digunakan untuk membantu keluarganya yang mengalami kesulitan.

Baginya, hidup adalah perjuangan, dan kesuksesan adalah apabila bisa membantu orang lain menjadi lebih baik.

Meski hasil kebun sawitnya berfluktuatif, Sunarto tetap optimistis bahwa berkebun kelapa sawit menjadi usaha yang paling aman dan bisa diandalkan dibandingkan dengan usah yang lainnya.

"Berkebun sawit tidak ada pesaingnya, bahkan semakin banyak teman menanam kelapa sawit akan semakin baik," tuturnya.

Karena hamanya berkurang.

Berbeda dengan berdagang atau yang lainnya, jika ada orang yang sama-sama berusaha jenis yang sama, maka akan menjadi pesaing yang mengancam.

Selama berkebun sawit, Sunarto bisa pergi kemana-mana, tanpa harus memperhatikan kebun atau khawatir kebun akan terbengkalai.

Karena kebun kelapa sawit Sunarto dikelola Koperasi Unit Desa (KUD) Gajah Mada yang bekerjasama dengan PT Sinar Kencana Inti Perkasa (SKIP) dengan pola plasma.

Dalam kondisi baik, setiap bulan, Sunarto mendapatkan hasil dari kebunnya kisaran Rp10.000.000.

Ia mengaku sangat hati-hati dalam mengelola hasil kebun kelapa sawit. "Kami bercita-cita anak-anak kami yang masih kecil ini bisa sekolah setinggi-tingginya agar tidak seperti bapaknya sampai menjadi TKI hanya untuk mempertahankan hidup," harapnya.

Untuk mengembangkan usahanya agar tidak sampai disitu saja, Sunarto berencana untuk membuka usaha yang lainnya.

"Ya seperti mobil, harus ada ban serep, sewaktu-waktu ban kempes, kita bisa menggantinya dengan ban serep," terangnya.

Sewaktu-waktu usaha sawit menurun, harus sudah ada usaha yang bisa menopang.

Yang terpenting mumpung masih kuat dan sehat, kita ciptakan pundi-pundi pendapatan sebanyak-banyaknya, agar ketika tenaga sudah berkurang semuanya bisa jalan.

Sunarto mengimbau kepada TKI untuk berhati-hati dalam mengelola uang. Ia berpesan jangan sampai uang gaji itu digunakan untuk membangun rumah terlebih berfoya-foya.

"Betapa ruginya menjadi TKI berpisah dengan keluarga, setelah mendapatkan hasil digunakan untuk berfoya-foya," pesan dia.

Oleh karenanya, gunakan uang gaji untuk berinvestasi untuk masa depan keluarga dan semuanya.

Mungkin uang gaji yang dikumpulkan selama menjadi TKI jumlahnya hanya puluhan juta.

Namun setelah dibelikan kebun kelapa sawit, asset Sunarto yang dulu awalnya kurang dari limapuluh juta Rupiah itu kini telah menjadi miliaran rupiah.

Sumber : beritadaerah.com

Ikuti "Workshop The Tour Series 1" dengan tema HOW TO BE THE GREAT ENTREPRENEUR

Klik gambar dibawah ini untuk info selengkapnya


Mantan TKI Sukses Jadi Pengusaha Telur Puyuh


Mantan TKI yang merupakan pasangan suami istri, Sukisman dan Dewi, mencoba menyiapkan hari tua seawal mungkin. Keduanya sama-sama berusia 35 tahun, dan pernah menjadi Tki di Korea. Pasangan suami istri yang mengaku saling bertemu di Jakarta itu kini sukses beternak telur puyuh. Keuntungan bersihnya mencapai Rp. 1 juta/pekan. Modal awal pun sudah kembali dalam waktu enam bulan. Sukses itu tidak datang tanpa ujian. Tetapi diawali dengan kebangkitan total usahanya dalam beternak sapi. Akibat kebangkrutan besar itu, Dewi harus rela ditinggal pergi suaminya ke Korea. Mencari modal lagi untuk usaha.
Padahal, waktu itu Dewi yang asli Garut, Jawa Barat baru saja melahirkan anak pertamanya, Gerrad Meilano (5). Sedangkan putra keduanya, Aditya Al Majid yang kini berusia 11 bulan lahir hampir bersamaan dimulainya bisnis telur puyuh.

Dewi mengawali rumah tangganya dengan ketidakpastian sumber penghasilan. Namun, mereka kini sudah mapan. Memiliki toko pakan ternak bertingkat dua dan beternak puyuh petelur sebanyak 4 ribu ekor. Penjualnya juga sudah ajeg. Ada pengepul dari Klaten yang setiap dua minggu sekali datang mengambil telur. Ini masih ditambah keuntungan besar bisnis burung kicau yang harganya mulai dua ratus ribu sampai jutaan rupiah.

Sukses Pasca Bangkrut
Dewi, asal Garut Jawa Barat. Berasal dari keluarga tidak mampu dan tinggal di desa. Seperti pada umumnya perempuan muda yang baru saja lulus SMA di tahun 1996, Dewi juga ingin segera bekerja. Pasalnya, sekolah di perguruan tinggi jelas tidak mungkin. Ketiadaan biaya menjadi kendala. Alhasil, sejak tamat dari SMA, Dewi bertekad mencari pekerjaan sebisanya. Padahal, di Garut jarang ada pabrik besar. Karena itu, Dewi yang ingin mengubah nasibnya membulatkan tekad untuk merantau.

Pertama kali, bekerja di sebuah pabrik di Purwokerto. Tetapi, hanya bertahan selama dua tahun. Sesudah itu, pulang ke desa dan menganggur. Tak ingin hanya berpangku tangan, Dewi kembali bekerja. Tekadnya semakin bulat dan besar, sehingga dirinya memutuskan untuk bekerja ke luar negeri. Setelah susah payah melamar melalui PJTKI, awal tahun 2003 bisa berangkat ke luar negeri dan bekerja di sebuah pabrik pembalut di Korea. Ketika hendak berangkat ke luar negeri itulah, dia bertemu dan berkenalan dengan Sukisman. Seorang TKI asal Selman yang juga hendak mengadu nasib di Korea.

Perkenalan itu berlanjut salama keduanya berada di negeri orang. Sehabis masa kontak kerja yang kedua, Dewi dan Sukisman pulang ke Indonesia. Waktu itu, tahun 2005. Setahun kemudian, 2006, mereka menikah, “waktu menikah itu, kami sama-sama masih menganggur,” ungkap Dewi. Saking pusingnya tak kunjung mendapat pekerjaan, Sukisman nekad berangkat ke Korea lagi. Sedangkan Dewi tinggal di Garut bersama anak pertamanya yang waktu itu baru berusia dua minggu.

Tiga tahun lamanya Sukisman bekerja di Korea. Tahun 2009, Sukisman pulang dan keduanya sepakat membuka usaha di kampung halaman Sukisman di Pendowoharjo, Sleman. Dewi setuju. “Tahun 2009 itu, kami sepakat beternak sapi. Tidak tanggung-tanggung, kami berdua membeli 10 ekor sapi. Tapi, semua itu gagal. Harga sapi terjun bebas dan kami rugi dua juta rupiah perekor. Itu belum termasuk kerugian tenaga dan pakan,” kenang Dwi.

Namun, kegagalan itu tak membuat mereka putus asa. Sebaliknya, terus memompa semangat suaminya untuk terus berushaa. Akhirnya melalui seorang teman, Dewi belajar beternak puyuh petelur. Akhir tahun 2009, Dewi dan Sukisman bahu membahu membangun peternakan puyuh. Uang sisa penjualan sapi yang ruti, diinvestasikan lagi untuk beternak telur puyuh dan membuat warung pakan ternak kecil-kecilan.

“Tidak disangka, dari ternak puyuh sebanyak 4 ribu ekor, semua modal sudah kembali dalam waktu enam bulan. Omzetnya sangat tinggi,” kata Dewi. Kini, Dewi semakin tekun memelihara telur puyuh. Sekalipun cukup sulit, hasilnya sepadan. Memelihara puyuh petelur itu sulit, karena tergolong ternak sensitif. Mudah tertular penyakit dan stres. “Kalau mendengar suara keras yang mendadak, puyuh bisa stres. Tapi dengan kandang yang tertutup dan dibersihkan setiap hari, semua kendala itu tidak bermasalah,” jelas Dewi, seraya mengimbuhkan karena itu pula dirinya melarang orang lain untuk bisa mauk ke kandang. Selain keuntungan dari telur puyuh. Dewi juga masih memperoleh keuntungan lain dari penjualan kotoran puyuhnya. Dari 4 ribu ekor puyuh, dalam sehari menghasilkan kotoran sebanyak 3 ember. “Satu ember kotoran puyuh yang masih basah laku terjual sebesar seribu rupiah,” katanya.

Sedangkan dari puyuhnya sendiri, kadang juga masih bisa diperoleh sedikit keuntungan lagi. Setahun, sekali, puyuh yang sudah tidak produktif dijual seharga Rp. 2.500/ekor dan diganti puyuh usia 3 minggu. “Puyuh akan mulai bertelur pada usia 60 hari dan mencapai puncak produktivitasnya pada usia 10 bulan,” pungkasnya.


Ikuti "Workshop The Tour Series 1" dengan tema HOW TO BE THE GREAT ENTREPRENEUR

Klik gambar dibawah ini untuk info selengkapnya 


TKI Sragen Sukses Jadi Pengusaha Madu


Siapa sangka sosok di balik kesuksesan madu Arba’in adalah mantan tenaga kerja Indonesia (TKI). Sukarna, pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 40 tahun silam, ini pernah menghabiskan waktu 2,5 tahun di Arab Saudi sebelum sukses dengan bisnisnya saat ini.

Berkat kerja keras dan keuletannya, madu Arba’in telah menghiasi tokotoko dan apotek di hampir seluruh wilayah Indonesia. Lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo 1994 lalu, cita-cita Sukarna sebenarnya ingin menjadi dosen.Untuk itu dia pun berniat meneruskan pendidikan S-2 dengan harapan dapat mengajar di almamaternya. Namun, di sisi lain, penyandang gelar sarjana pendidikan ini juga dituntut orang tuanya untuk segera bekerja.

Bekerja akhirnya dipilih Sukarna lantaran untuk meneruskan kuliah S-2 tidak memiliki biaya. "Selain kuliah, waktu itu saya juga ingin memperdalam ilmu agama agar seimbang dengan ilmu lain yang saya peroleh saat kuliah," kenang Sukarna. Dia kemudian memutuskan bekerja sebagai TKI di Arab Saudi.Pertimbangannya,selain bekerja,dia bisa memperdalam ilmu agama. Selama 2,5 tahun Sukarna bekerja di sebuah restoran cepat saji. Tidak hanya dapat mengumpulkan uang, dia juga mampu menjalankan ibadah umrah dan haji.

Kembali ke Tanah Air, pria yang tinggal di Jalan Pakis Gang Jago RT 3/14, Kampung Cemani, Desa Cemani, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, ini tidak langsung menekuni usaha berjualan madu. Dia menjadi guru STM di Sukoharjo.Dengan profesinya itu pula dia berani menikah. "Waktu itu, profesi guru sudah cukup mentereng untuk bekal menikah," ujar suami Ummuzaid ini tersenyum. Pada perjalanannya, menjadi guru di sekolah swasta ternyata tidak membuatnya betah. Sukarna menilai beban guru sangat besar, tetapi gaji yang diterima tidak sebanding. Masalah ini terus mengusik pikirannya.

Hingga suatu saat, setelah mempertimbangkan matang-matang, dia akhirnya memutuskan mundur meskipun ketika itu belum memiliki rencana akan bekerja apa setelah tak lagi menjadi pendidik. Namun dari situlah ide berwirausaha muncul.Usaha yang digeluti pertama kali adalah bidang konveksi. Dengan modal awal hanya Rp300 ribu, usaha tersebut awalnya berkembang pesat. Memasuki bulan keenam omsetnya mencapai Rp20 juta. Tapi usaha ini tidak bertahan lama. Bisnis konveksi gagal akibat mitra usaha terus menunggak pembayaran. Dianggap tak lagi prospektif,Sukarna memutuskan banting setir mencari usaha lain."Waktu itu dana yang tersisa tinggal Rp200 ribu. Uang itu saya belanjakan madu dengan harapan akan saya jual kembali," kenang Sukarna. 

Mengapa memilih usaha madu? Setidaknya ada tiga alasan yang dikemukakannya. Pertama,madu direkomendasikan Alquran dan Hadis.Kedua, usaha bidang kesehatan tidak mengenal musim dan ketiga, harga madu dari waktu ke waktu selalu naik. Madu yang didapatkan dari sekitar Solo tersebut lantas dikemas dalam ukuran kecil.Madu inilah yang dia tawarkan ke toko-toko,apotek, dan sejumlah temannya.

Sayang, tawaran itu belum mendapat respons positif.Alasannya, madu yang dia jual tidak terkenal. Belajar dari pengalaman itu,Sukarna berpikir untuk membuat brand baru dengan harapan produk madunya bisa diterima semua kalangan. Sukarna pun meminta temannya membuatkan label untuk ditempel di produk madunya. "Teman saya itu kemudian meminta nama merek untuk label tersebut," ujar Sukarna.

Dia pun berpikir untuk mencarinama yang mudah diingat dan dapat diterima semua masyarakat. Ditemukanlah kata ”Arba’in”. Nama ini lantas menjadi merek produk madunya sejak 2002. Madu Arba’in dikemas dengan ukuran 250 mililiter (ml) hingga 600 ml. ”Dengan label dan merek baru, apotek dan toko mulai dapat menerima meski belum semua,”ujarnya. Dengan semangat tinggi dan kesabaran, madu Arba’in produksinya sedikit demi sedikit mulai dikenal masyarakat.

Sukarna juga tak lelah mempromosikan produknya, mulai dari ikut berpameran hingga memajangnya di pusat perbelanjaan. Sukarna menuturkan, memasuki tahun ketiga,semua apotek sudah familier dengan madu Arba’in. Bahkan memasuki tahun kelima, banyak apotek yang menelepon untuk dikirimi produk madunya. Untuk memenuhi permintaan, awalnya dia hanya memiliki dua karyawan. Saat ini, sudah puluhan karyawan yang membantu usahanya tersebut. Semakin tingginya permintaan itu juga membuat dirinya memutuskan untuk melebarkan sayap bisnis.

Sukarna melakukan ekspansi usaha ke Yogyakarta.Untuk mendukung strategi bisnis tersebut, pada 2009 Sukarna mengakses perbankan, dalam hal ini BNI Syariah. Dengan sistem murabahah atau jual beli kredit, Sukarna mendapat pinjaman senilai Rp380 juta dengan durasi pinjaman tiga tahun. Uang itu dia gunakan untuk membuka cabang di Yogyakarta dan Bandung. Sukarna mengakui,bantuan keuangan dari BNI Syariah tersebut dirasakan benar-benar bermanfaat. Pasalnya, usaha madu menggunakan sistem konsinyasi sehingga butuh dana besar.

Artinya, produk dia titipkan terlebih dahulu di apotek, toko, dan lainnya di mana pembayaran dilakukan setelah laku. Hingga saat ini produk madu Arba’in telah terdistribusi di hampir semua wilayah di Indonesia, mulai dari Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat hingga Papua. Madu Arba’in dijual dengan harga termurah Rp22.500 hingga termahal berupa madu impor dari Yaman Rp650 ribu. Menurut Sukarna, usaha ini terus berkembang. Seiring kesuksesan itu, Sukarna merambah bisnis lain. Didasarkan pada filosofi ”jangan menaruh telur dalam keranjang yang sama”, dia tidak terpatok pada usaha penjualan madu.

”Sejak 2009 saya sudah merancang bisnis franchise (waralaba) es madu yang sudah laku tujuh gerai,” paparnya. Tidak hanya itu, Sukarna juga mengembangkan waralaba untuk brand yang lain, yakni pop corn dan teh segar. Bahkan, pada tahun ini dirinya kembali meluncurkan waralaba baru, yakni kue leker-kue maryam-terang bulan manis. Dengan beragamnya usaha yang dijalankan, ke depan dia berharap jika satu usaha mengalami kemunduran, bidang usaha lain dapat berkembang.

Disinggung tentang kendala dalam menjalankan usaha madu Arba’in dan bisnis waralabanya, Sukarna menyebut harga bahan baku yang sering tidak terkendali. Sebab, terkadang petani madu sering mengalami gagal panen. Madu Arba’in merupakan produk madu randu. Bahan bakunya dia ambil dari luar daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, NTB, Sumatera, serta Kalimantan. Bahkan,ada juga bahan baku yang diambil dari Thailand,Mesir,dan Yaman. ”Saat ini bahan baku masih mudah. Namun, ada kalanya susah didapat,”ujarnya. Sukarna menambahkan, kunci kesuksesan yang dia raih selama ini memang tidak mudah. Selain harus fokus,seorang pengusaha harus sabar terhadap semua kendala, kreatif, serta harus selalu inovatif. Ke depan, dia tetap optimistis usahanya dapat berkembang. 

Sumber : euro.okezone.com

Ikuti "Workshop The Tour Series 1" dengan tema HOW TO BE THE GREAT ENTREPRENEUR

Klik gambar dibawah ini untuk info selengkapnya 


TKI Purbalingga Sukses Jadi Pengusaha Sapu


PURBALINGGA - Di balik kisah sedih yang dialami para Tenaga Kerja Wanita (TKW ) asal Indonesia di luar negeri, ternyata ada juga TKW yang mampu meraih kesuksesan setelah kembali ke kampung halamannya.

Seperti di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Seorang mantan TKW sukses menjadi pengusaha sapu usai pulang bekerja dari Singapura. Tidak tanggung-tangung omzet usaha sapunya bisa mencapai miliaran rupiah. Bahkan, produk sapunya ini telah merambah ke beberapa negara seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Malaysia.

Inilah sukses yang diraih Rohimah (37), istri dari Bambang Triono warga Desa Karang Gambas, Kecamatan Padamara, Kabupaten Purbalingga. Di rumah yang juga dijadikan kantor, serta tempat produksi sapunya inilah, Rohimah beserta suaminya mengedalikan usaha sapunya yang terbuat dari rumput glagah. Usaha pembuatan sapu yang dimulai sejak 2005 ini, kini telah menjadi lapangan kerja bagi ratusan warga sekitar.

Kesuksesan pabrik sapu milik Rohimah ini ternyata tidak datang begitu saja. Namun beberapa kali mengalami pasang surut. Bahkan, usaha sapunya ini sempat vakum selama dua bulan akibat ketiadaan modal serta buruknya administrasi.

Kondisi inlah kemudian yang membuat Rohimah memutuskan untuk menjadi TKW ke Singapura. Namun, Rohimah hanya bekerja selama satu tahun di Singapura. Meski demikian, banyak pengalaman yang didapat hingga ia bersama suaminya melanjutkan usaha sapunya ini.

“Wah, usaha saya semula sempat pasang surut, pokoknya untuk sukses tidak gampang dan harus bekerja tekun mas,” ujar Rohimah, mantan TKW.

Tentu saja, kesuksesan Rohimah juga tak lepas dari peran dari Bambang Triono suaminya. Ayah dua anak inilah yang bekerja untuk mencari tempat pemasaran produk sapunya hingga kualitas produk sapunya dipercaya untuk diekspor ke beberapa negara Asia. “Kita saling mendorong dan bahu membahu mas,” ujar  Bambang Triono.

Banyaknya permintaan sapu dari berbagai negara membuat Rohimah dan Bambang tak bisa mengerjakan sendiri. Mereka harus mempekerjakan beberapa warga sekitar. Tentu saja kondisi ini sangat menguntungkan warga sekitar yang sebagian besar bekerja sebagai buruh tani. Bahkan, jumlah para pekerja di pabrik sapu milik Rohimah ini, mencapai ratusan orang.

Meski telah sukses, namun masih banyak kendala yang dihadapi Rohimah dan Bambang dalam mengembangkan usahanya ini, Seperti modal dan peralatan yang masih manual. Sehingga, mereka pun berharap pemerintah bisa membantu masalah yang dihadapi.


Ikuti "Workshop The Tour Series 1" dengan tema HOW TO BE THE GREAT ENTREPRENEUR

Klik gambar dibawah ini untuk info selengkapnya 


TKI Sumatra Utara Jadi Pengusaha Roti Sukses


Tahun 1998 Mistar adalah pemuda gamang yang baru lulus diploma tiga Jurusan Tata Niaga, Akademi Maritim Belawan, Sumatera Utara. Krisis ekonomi di dalam negeri membuat dia memutuskan bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja Indonesia atau TKI. Kini, Mistar dikenal sebagai pengusaha roti dengan 70 karyawan yang bergantung pada usahanya itu. Usaha roti berlabel Family milik Mistar terletak di Dusun V, Pasar I, Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Hinai, Kabupaten Langkat, Sumut. Rumah sekaligus pabrik rotinya itu dipenuhi dengan tumpukan kayu bakar dan berkarung-karung roti kering retur.

”Sebenarnya banyak mantan TKI yang berhasil. Beberapa teman saya dulu juga sudah membuka usaha sendiri dan maju,” tutur Mistar, bapak dua anak itu, merendah.

Selepas menyelesaikan program D-3, Mistar mengaku bingung mau bekerja apa dan di mana. Apalagi saat itu tahun 1998, Indonesia tengah dilanda krisis moneter dan banyak karyawan yang justru terkena pemutusan hubungan kerja, termasuk sang ayah, Muhammad Sari, dan pakciknya, Suryadi.

Mereka semula bekerja di sebuah pabrik roti di Tanjungpura. Toko roti itu tutup. Sang ayah lalu membuka kedai kebutuhan pokok di rumah mereka yang berbatasan dengan kebun kelapa sawit PTPN II Tanjung Beringin, sedangkan Suryadi bekerja mocok-mocok pada orang lain. ”Saya sempat mau bekerja di pabrik elektronik di Tanjung Morawa,” kata Mistar.

Namun, saat dia hendak mengikuti pelatihan ke Jakarta, tes kesehatannya tidak memenuhi syarat. Maka, Mistar pun kembali ke rumah. Tahun 1999, dia memutuskan mendaftarkan diri menjadi TKI ke Malaysia.

Motivasi kerjanya sejak awal memang tidak semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan itu sendiri, tetapi lebih guna mengumpulkan modal untuk membuka usaha di kampungnya sendiri. ”Banyak anggota keluarga kami yang tidak punya pekerjaan. Saya juga tidak pernah berpikir untuk menjadi pegawai negeri sipil atau tentara,” kata Mistar.

Negeri Sembilan

Mistar kemudian diterima bekerja di pabrik tekstil di Negeri Sembilan, Malaysia. Ketika itu dia mendapat gaji pokok sebesar 430 ringgit per bulan. Namun, pada praktiknya dalam sebulan ia bisa menerima sampai 1.000 ringgit karena banyak kerja lembur.

Dia bercerita, banyak temannya sesama TKI yang menggunakan uang hasil kerja di Malaysia itu untuk membeli tanah atau membangun rumah. Namun, setelah kembali ke Tanah Air mereka justru tidak mempunyai pekerjaan. Kondisi seperti itu menambah motivasi Mistar untuk membuka usaha sendiri. ”Rencana saya itu cuma dua tahun bekerja di Malaysia, tetapi uangnya belum terkumpul cukup. Jadinya selama tiga tahun saya menjadi TKI di sana,” katanya.

Mistar mengenang, sekitar delapan bulan sebelum kembali ke kampung halaman pada 2002, dia mengirimkan uang Rp 20 juta kepada sang bapak. Uang itu digunakan oleh ayah dan pakciknya untuk modal membuka usaha roti yang kemudian diberi merek Family.

Pilihan usaha roti diputuskan karena pakciknya memang ahli dalam pembuatan roti. Sejak tahun 1970-an, Pakcik Suryadi bekerja pada seorang pengusaha roti keturunan Tionghoa.

”Dulu, kami ini memang keluarga kuli (pabrik) roti. Kebetulan juga saat itu bahan baku pembuatan roti bisa diutang pada toko bahan pokok di Tanjungpura. Minggu ini kami ambil bahan untuk roti, satu minggu kemudian baru dibayar,” ceritanya.

Mistar memilih nama Family untuk produk rotinya karena para pekerja dalam usaha ini adalah anggota keluarga besarnya. ”Mulai dari pakcik, bapak, sampai tiga adik saya, semuanya terlibat dalam usaha roti ini,” kata Mistar yang produk rotinya menyasar konsumen kelas menengah-bawah dengan harga eceran rata-rata Rp 500 per buah.

Pinjam bank syariah

Uang hasil kerja Mistar sebagai TKI di Malaysia relatif habis digunakan untuk membeli peralatan pembuatan roti dan membuat bangunan berdinding anyaman bambu berlantai semen di belakang rumah orangtuanya.

Di sini ada tungku besar dari bata dengan bahan bakar kayu. Ada pula mesin penggilas adonan dari besi yang ditempa sendiri. Ongkos pembuatan mesin penggilas adonan dengan bantuan bengkel las itu sekitar Rp 2,5 juta. Alat serupa ini bila dibeli di toko bisa sampai Rp 6 juta.

Mistar juga membangun ruangan penguapan kue. Ruang seluas sekitar 2 x 2 meter itu beratap rendah dan ditutup gorden. Uapnya berasal dari dua kompor yang terus mendidihkan panci berisi air. Uap air dari panci itu yang membuat suhu udara di kamar penguapan itu selalu hangat.

Pelan-pelan usaha roti Family terus berkembang. Mistar pun memberanikan diri menambah modal dengan meminjam dari bank.

”Namun, baru setelah usaha berjalan kami pinjam uang ke bank. Kami pinjam Rp 50 juta dari Bank Sumut Syariah,” cerita Mistar. Selain itu, dia juga punya pinjaman Rp 10 juta pada Lembaga Peningkatan dan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (LP2KM).

Karyawan bertambah

Waktu baru membuka usaha pada 2002, produksi roti Family membutuhkan lima hingga enam karung terigu setiap hari dengan jumlah karyawan di bagian produksi 10 orang. Kini, ia membutuhkan sedikitnya 15 karung terigu per hari dengan jumlah karyawan 70 orang.

Dari jumlah karyawan itu, 25 orang bekerja di bidang produksi dan 25 orang lainnya menjadi tenaga pemasaran yang membawa roti Family ke sejumlah warung di Langkat, Binjai, Serdang Bedagai, Deli Serdang, hingga Aceh Timur. Adapun 20 orang adalah pekerja lepas untuk pembungkusan roti.

Pekerja produksi digaji Rp 20.000-Rp 40.000 per hari, sedangkan tenaga pemasaran dibayar berdasar bagi hasil penjualan.

Mistar juga menampung pemasaran untuk tiga produsen roti kering di dusunnya. Salah satu di antara produsen roti kering milik Tina Melinda (32), sesama mantan TKI di Malaysia yang mempunyai 26 karyawan.

Untuk meningkatkan kualitas produk, setiap tiga bulan sekali petugas dari dinas kesehatan datang untuk mengecek kualitas pangan produksinya.

”Saya banyak dibantu BP3TKI (Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI) mengikuti pelatihan. Para mantan TKI juga sering bikin pertemuan di sini,” kata Mistar tentang mereka yang datang ke Desa Tanjung Beringin untuk studi banding, termasuk dari Bandung, Jawa Barat.

Meski telah tujuh tahun menjadi juragan roti, Mistar belum pernah melihat pabrik roti modern, apalagi punya jaringan dalam industri pangan nasional. Namun, setidaknya sebagai mantan TKI, dia bisa membuka peluang kerja bagi banyak orang di kampungnya.

Mistar berharap, siapa pun yang kelak menjadi presiden di negeri ini, perekonomian Indonesia bisa stabil. Ini penting baginya agar usaha roti yang menghidupi puluhan keluarga di desanya itu bisa terus berkembang. 


Ikuti "Workshop The Tour Series 1" dengan tema HOW TO BE THE GREAT ENTREPRENEUR 

Klik gambar dibawah ini untuk info selengkapnya 


TKI Lampung Jadi Pengusaha Sukses Toko Bangunan dan mendirikan Pasar TKi di Lampung


Imam Nahrawi, mantan TKI dari Korea Selatan, kini menjadi pengusaha sukses di kampung halamannya, Way Jepara, Lampung Timur. Imam memiliki toko bahan bangunan, ruko, dan aset lain senilai total Rp 2,1 miliar. Namun, yang membuatnya tersohor adalah suksesnya mendirikan pasar TKI di Labuhan Ratu, Lampung Timur. Dia mendirikan pasar dengan 70 toko yang semua penjualnya adalah mantan TKI.

Pergi untuk menjadi TKI memang harus punya target. Setidaknya hal itu yang diyakini Imam Nahrawi sebelum memutuskan menjadi TKI di Korsel tahun 2000. Imam berangkat menjadi TKI ke Korea Selatan dengan target untuk mengubah kehidupan, karena gaji sebelumnya sebagai  pekerja di pabrik pengolahan pisang,  dirasa tidak kunjung cukup.

“Istri saya sempat berpesan dan memberi saya 2 pilihan saat akan berangkat yaitu, pulang dan berhasil membuat iri tetangga karena sukses, atau pulang dengan malu karena disorakin tetangga karena tidak sukses,” tutur Imam.

Berbekal pesan dari sang istri tadi, Imam pun bekerja di perusahaan tekstil di Pusan, Korea Selatan. Tekad, usaha keras dan kejujuran yang membuat Imam bisa mengumpulkan banyak modal untuk menjadi pengusaha di tanah kelahirannya, setelah ia kembali dari korea tahun 2002. Kini Imam memiliki sejumlah usaha. Semua asset yang dibangun dari modal gaji yang dia kumpulkan selama bekerja di Korea itu, kini mencapai milyaran rupiah.

Uniknya  lagi, Imam kini membangun sebuah pasar yang diperuntukan bagi para mantan TKI. Pendirian pasar ini katanya, merupakan wujud prihatin karena banyak ditemukan mantan TKI yang kembali miskin setelah pulang ke kampung halamannya, akibat para mantan TKI berperilaku konsumtif dan tidak bisa mengelola uang hasil jerih payah selama bekerja di luar negeri.

“Pasar itu untuk memotivasi mereka agar tidak lagi menjadi TKI dan sukses berwirausaha,” katanya.

Sukses pria yang orang tuanya berasal dari Blitar itu bisa menjadi contoh dan pelecut para TKI yang ingin sukses di kampung halaman.


Ikuti "Workshop The Tour Series 1" dengan tema HOW TO BE THE GREAT ENTREPRENEUR 

Klik gambar dibawah ini untuk info selengkapnya 


 
Copyright © 2011. TKI Jadi Pengusaha - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger